in

Nasib Rohingya di Cox’s Bazar: Hidup dalam Isolasi

pengungsi rohingya

COX’S BAZAR– Dengan status kewarganegaraan yang tidak diakui Myanmar, pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh dihadapkan pada dua pilihan pahit, bertahan di kamp dengan pengawasan ketat atau pindah ke pulau terpencil.

Permasalahan ini menjadi catatan serius yang dilaporkan The Guardians pada 04 November 2019 dalam tulisan berjudul ‘Our only aim is to go home’: Rohingya refugees face stark choice.

Disebut bahwa saat ini pemerintah Bangladesh menutup paksa toko-toko miliki pengungsi Rohingya, memblokir layanan internet, menyita ponsel, memasang pagar dan menetapkan jam malam. Artinya, tidak boleh ada aktifitas di atas pukul 8 malam bagi pengungsi. Seiring itu, Bangladesh diisukan berencana memindahkan 100.000 pengungsi ke sebuah pulau di Teluk Banggala.

Mohammad, seorang pengungsi Rohingya yang kakinya putus akibat kekerasan di Myanmar mengaku tidak mengerti alasannya. Menurutnya, pergerakan Rohingya saat ini sangat dibatasi.

“Dulu bantuan untuk kami cukup banyak. Namun sekarang kami merasa tidak didukung baik oleh LSM dan pemerintah setempat. Sementera aktifitas kami kian dibatasi,” ungkapnya.

Mohammad, seorang pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar (The Guardian)

Dengan melarang bekerja, Bangladesh telah memotong sumber pendapatan para pengungsi. Sehingga menimbulkan masalah ekonomi, sedangkan bantuan yang diterima sangatlah terbatas.

Di sepanjang jalan di tengah kamp pengungsian, sejumlah toko telah ditutup paksa oleh polisi sejak beberapa pekan terakhir. Kondisi ini sangat menyulitkan para pengungsi, terlebih tersiar larangan kepada penduduk lokal untuk mempekerjakan pengungsi Rohingya.

Wasi Rahman, 20 tahun mengaku bingung dengan kebijakan tersebut. Beberapa pekan lalu, polisi tiba-tiba datang dan menutup paksa tokonya. Padahal dalam sehari ia bisa menghasilkan hingga 500 ribu rupiah.

Hal serupa juga dialami oleh Abdullah, 30 tahun, pedagang ayam potong di kamp pengungsi. Ia mengaku, akibat penutupan paksa ini, ayam-ayamnya mati.

Abdullah, 30 tahun, Rohingya pedagang ayam potong di kamp pengungsi (The Guardian)

“Kami belum diberi alasan mengapa ini terjadi,” tuturnya.

Admin

What do you think?

Written by OneNews

sman2 peusangan aceh

Majelis Guru SMAN 2 Peusangan Dukung TAMBATAN

bantuan wamena

One Care-FOZ Bersinergi Bangun Huntara di Wamena