in ,

Kelaparan dan Kolera di Kemelut Perang Yaman

SANAA- Tidak mudah menjadi warga Yaman. Sebagai negara dengan krisis kemanusiaan terburuk, kondisi warganya berputar tidak jauh dari lingkaran kemiskinan, kelaparan, keterbelakangan pendidikan, dan wabah kolera.

Menginjak tahun kelima, peperangan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Kekuatan yang menjadikan Yaman arena tanding hampir tidak mengenal hari libur. Sayangnya, mereka selalu saling tuding dan sembunyi tangan atas dampak yang terjadi. Jelas, warga sipil merasakan imbasnya.

Menurut United Nations Development Programme (UNDP), bila peperangan masih berlanjut hingga 2022, negara termiskin di Semenanjung Arab itu berpotensi naik peringkat menjadi termiskin di dunia. Itu artinya, akan ada 79 persen warga Yaman yang hidup di bawah garis kemiskinan dan 65 persen diantaranya tergolong sangat miskin.

Katahanan pangan Yaman pun tergolong rapuh. Wolrd Food Programme menyebutkan, angka kelaparan di Yaman belum pernah terjadi sebelumnya. Bila tidak ada bantuan makanan, 20 juta orang terancam kelaparan. Sementara ada 2,6 juta wanita hamil, menyusui dan balita membutuhkan nutrisi khusus.

BACA: Daging Kurban Indonesia Penuhi Nutrisi Pengungsi Suriah, Palestina hingga Yaman

Belum lagi, pasokan air bersih di Yaman sangat terbatas. Ada 18 juta orang yang tidak mendapatkan air layak konsumsi. Aljazeera melaporkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kekurangan air telah memicu wabah kolera yang terjangkit pada 1,2 juta orang. Ini merupakan wabah kolera terbesar dalam sejarah.

Kondisi salah-satu sekolah di Yaman

Perang panjang juga menghancurkan sistem pendidikan. Jutaan anak tak bisa lagi melanjutkan sekolah lantaran negara tak sanggup membayar upah guru. UNICEF menyebutkan bahwa gaji guru di Yaman belum dibayar lebih dari dua tahun.

Penyebab lainnya, fasilitas kurang memadai. Satu dari lima sekolah di Yaman tidak layak digunakan karena hancur. Dengan tidak dibayarnya gaji guru dan minimnya fasilitas, kualitas pendidikan pun terpaksa ditertaruhkan. Padahal, di tahun ajaran baru sekitar 2 juta anak yang seharusnya dapat duduk di bangku sekolah.

Admin

What do you think?

Written by OneNews

Gempa Maluku: 41 Orang Meninggal, Ratusan Ribu Masih Mengungsi

Berusia Seratus Tahun, Nenek Siti Tinggal di Rumah Sempit