in , , , ,

Kapal Pecah Dihantam Tsunami, Zaidi Pasrah Menganggur

PANDEGLANG- Tsunami yang melanda sejumlah pantai di Selat Sunda tidak hanya merusak pemukiman tetapi juga menghilangkan mata pencarian penduduk setempat. Entah berapa banyak nelayan yang tak bisa lagi melaut karena kapal yang biasa digunakan untuk mencari ikan telah pecah dihantam tsunami.

Begitulah nasib Zaidi, salah-satu nelayan yang berhasil selamat dari gelombang tsunami. Pada malam kejadian, Zaidi yang tinggal di Kampung Lentera, Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang merasakan suara bising dengan suara ombak yang tak biasa. Ia tak menduga bahwa itu adalah gelombang tsunami.

“Saya sedang berinteraksi dengan keluarga di rumah. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang tak biasanya. Saya penasaran, saya cek ke luar. Pas dilihat, perahu bergerak maju saling bergesakan. Ditambah hantaman perahu ke perahu hingga banyak yang patah dan kaca yang pecah,” ungkapnya saat ditemui relawan One Care, Rabu (09/01/2019)

Zaidi duduk termenung di salah-satu kapal milik nelayan lain

Tak berpikir lama, sontak Zaidi langsung mengajak keluarga untuk menyelamatkan diri. Namun, kapal yang ia miliki hancur dilibas arus tsunami. Padahal dengan kapal itulah, Zaidi menghidupi keluarganya.

“Untuk sekali berlayar bisa memakan waktu 3 hari atau lebih. Hasilnya, kadang melimpah atau kurang. Namun untuk saat ini perahu yang biasa dipakai sudah hancur terbawa gelombang,” ungkapnya.

Relawan One Care mengunjungi para nelayan korban tsunami di pelabuhan

Menurut Zaidi, ia bukanlah satu-satunya yang kehilangan kapal untuk melaut. Umumnya, para nelayan di kampungnya bernasib sama dengan dirinya. Ada kapal yang terseret hingga jauh ke daratan, ada yang saling bertabrakan hingga pecah dan ada pula yang menghantam bangunan hingga tak dapat digunakan lagi.

“Bukan hanya sekedar menyeret, perahu saling bertabrakan, tumpang-tindih bahkan menabrak bangunan-bangunan di sekitarnya. Termasuk wc umum dan mushola jadi ambruk pula,” tuturnya.

Tak banyak yang bisa Zaidi lakukan saat ini. Selain mengganggur, ia dan nelayan lainnya tak punya cukup modal untuk membeli atau sekedar memperbaiki kapal yang telah rusak. Menurutnya, proses memperbaiki perahu biasanya memakan waktu hingga tiga bulan. Namun melihat kondisi saat ini, Zaidi menduga prosesnya akan lebih lama. Selain jumlah tukang perahu yang berkurang, biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, dapat mencapai 25-100 juta rupiah.

(Dani Hendarsa)

What do you think?

Written by OneNews

Puting Beliung Porak Porandakan 190 Rumah di Rancaekek

Rumah Habis Dilibas Tsunami, Bayi Zaidan Alami Sakit di Pengungsian